Pusat Studi Wanita Unika SOEGIJAPRANATA

PUSAT STUDI WANITA

Jl. Pawiyatan Luhur IV/1 Bendan Dhuwur Semarang 50234
Telp. 024 - 8441555 Fax. 024 - 8415429, 8445265

Pusat Studi Wanita Unika SOEGIJAPRANATA

Women Crisis Centre
2010-12-14 15:55:15

Latar Belakang Sejarah


Kesetaraan dan keadilan gender nampaknya sudah menjadi isu yang sangat penting dan sudah menjadi komitmen bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia sehingga seluruh Negara menjadi terikat dan harus melaksanakan komitmen tersebut. Tetapi nampaknya komitemn tersebut banyak yang masih berupa slogan saja, masih banyak ditemukan adanya diskriminasi gender, termasuk di Unika Soegijapranata sendiri.

Dengan berbekal sprit di atas, maka Woman Crisis Center didirikan oleh PSW dilatarbelakangi oleh kebutuhan menangani kasus pelecehan seksual di lingkungan Unika Soegijapranata pada tahun 2000, yang dilakukan oleh figure yang seharusnya menjadi model perilaku yang tepat, khususnya model untuk para mahasiswa. Keprihatinan akan hal tersebut mendorong untuk didirikan suatu lembaga yang akan membantu perempuan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang disebabkan oleh diskriminasi gender.

Setiap hari, setiap saat, hampir setiap perempuan mengalami salah satu atau beberapa bentuk kekerasan berbasis gender. Bentuk kekerasan atau diskriminasi ini nampaknya bukan merupakan sesuatu yang baru. Semua orang pasti pernah mendengarkan cerita Ramayana yang mengisahkan tentang  perjalanan kakak beradik, Rama dan Lesmana, dalam mencari Shinta, istri Rama,  yang diculik oleh Rahwana.

Dewi Shinta
Simbol  perempuan korban kekerasan dalam masyarakat patriarki
Setelah bebas dari penculikan penuh tipu daya dan kekerasan yang dilakukan oleh Rahwana,
Dewi Shinta masih harus membuktikan kesuciannya pada Rama, yaitu dengan cara dibakar

Berkaitan dengan permasalahan di atas, maka tepatnya  pada  bulan April 2002, PSW Unika Soegijapranata mendirikan Women Crisis Centre (WCC). Tujuan dari WCC adalah mendampingi atau melakukan advokasi terhadap para perempuan yang menjadi korban kekerasan berbasis gender, yaitu  dengan mengembalikan harga diri dan kepercayaan perempuan tersebut. WCC juga memperluas kajian, tidak hanya masalah gender, tetapi  juga membantu advokasi terhadap berbagai bentuk diskriminasi terhadap anak

Bentuk-bentuk ketidakadilan gender dalam bentuk memarginalkan perempuan, subordinasi, sterotipe-stereotipe yang negatif,  kekerasan, serta pemberian beban ganda. Antara lain meliputi :
1.    memaksa perempuan pindah agama
2.    melarang perempuan bekerja
3.    mengomentari bentuk tubuh
4.    meraba, memeluk, mencium paksa
5.    memperkosa
6.    memukul
7.    tidak memberikan hak cuti haid dan melahirkan
8.    membedakan upah dari buruh pria untuk tanggung jawab pekerjaan yang sama

Pada awal pendiriannya, WCC diketuai oleh Rika Pratiwi dan dibantu  oleh  Hotmauli Sidabalok sebagai sekretaris.  Pada waktu itu, WCC  berkantor di Gd. Yustinus Lt. 1 Unika Soegijapranata , dengan alamat Email : wcc-psw@unika.ac.id

Untuk mengenalkan tentang lembaga ini maka dilakukan berbagai macam promosi untuk mengenalkan WCC di kalangan internal dan eksternal Unika Soegijapranata. Beberapa bentuk kegiatan promosi yang telah dilakukan ,  antara lain dalam bentuk pembuatan liflet, poster dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan internal maupun  eksternal  Unika Soegijapranata. Promosi tersebut nampaknya cukup efisien, karena pada perkembangan selanjutnya, WCC banyak menangani kasus-kasus diskiriminasi  dan kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan. Dalam memberikan pelayanan pada  anak atau perempuan korban diskrimasi atau kekerasan, WCC mempunyai beberapa orang tim yang terlibat sebagai pendamping, yaitu Rika Saraswati, Rika Pratiwi, Hotmauli Sidabalok, dan Donny Danarnono.

Kasus-kasus yang pernah masuk antara lain adalah para mahasiswi  yang mengalami kekerasan dari pacarnya,  istri yang mengalami  KDRT, anak yang melaporkan bahwa bapaknya melakukan kekerasan pada dirinya, atau perempuan yang ditinggal lari pasangannya  ketika dirinya sedang dalam keadaan hamil sendirian, tanpa dukungan orangtua. Bentuk-bentuk penanganan yang dilakukan antara  lain dengan memberikan pendampingan dan dukungan emosi maupun sosial, penyelesaian secara internal, mendampingi korban menemui pelaku di tempat kerjanya,  mengundang suami dan isteri secara bersama-sama untuk menemukan titip permasalahan. Bila dari korban ada kekuatan hati untuk mengatakan ”Ya ... saya ingin menuntut  pelaku” bisa terhadap suami, pasangan atau orangtua, atau pelaku yang tidak dikenal,  maka WCC akan mendampingi korban untuk melaporkan hal tersebut pada pihak yang berwenang. Biasanya WCC akan kerjasama dengan LRC KJ HAM dan BKBH Unika Soegijapranata Semarang.


Jadi pelayanan yang diberikan oleh WCC berupa konsultasi, pendampingan dan advokasi. Namun adanya beberapa kendala, antara lain adanya beberapa dosen yang harus pergi untuk tugas belajar, WCC kemudian  secara formal tidak terdengar aktif lagi, kurang lebih sejak  tahun 2005/2006 sampai sekarang. Namun secara personal, salah satu pendamping  mengatakan tetap  memberikan advokasi dan pendampingan pada perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan dan diskriminasi gender, yaitu melalui telpon pribadi.